Pages

Tuesday, May 28, 2019

Perbedaan Tak Jadi Halangan untuk Membangun Masjid di Abepantai

Ketua Badan Saraiah Masjid Al Fatah Abepantai, La Oranye, menuturkan Masjid Abepantai dibangun oleh keturunan suku Kei pada zaman Belanda.  Pembangunan masjid dilakukan karena banyaknya warga muslim yang mendiami Abepantai dan belum memiliki tempat ibadah.

Masjid Al Fatah Abepantai letaknya berdekatan dengan tempat pemakaman muslim terbesar Kota Jayapura. Awal berdiri tahun 1942, Masjid Al Fatah masih berupa panggung berdinding gaba-gaba dengan luas 8 x 8 meter.

Kata Oranye, masyarakat di Abepantai memugar masjid pada 1971 menjadi seluas 12 x 12 meter. Kemudian masjid kembali dipugar pada 1985 dengan bangunan permanen dan dilakukan pemasangan quba dari bahan tembaga.

Makin banyaknya jemaah muslim di sekitaran kampung itu, pemugaran kembali dilakukan besar-besaran sejak September 2018 dengan dua lantai.

“Sumbangan pembangunan masjid yang kami dapatkan tak hanya dari jemaah, tapi juga ada dari tetua adat, ondoagi (kepala suku) yang tak seiman dengan kami. Hal-hal semacam ini yang selalu kami rindukan di Papua,” ujarnya.

Sejak awal berdiri hingga saat ini, Masjid Jami Al Fatah Abepantai sudah dipimpin 7 imam.  Buya Hamka dikabarkan pernah mengunjungi masjid yang berdekatan dengan makam penyebar Islam di Jayapura, Syekh La Ode Muhammad Malik Akbari Pakualam Ngalimul Mukminin Said Zainudin.

Hingga kini, pembangunan masjid masih dilakukan dan setiap harinya dikerjakan oleh jemaah masjid dan masyarakat sekitar.  

Let's block ads! (Why?)

https://www.liputan6.com/ramadan/read/3974038/perbedaan-tak-jadi-halangan-untuk-membangun-masjid-di-abepantai

No comments:

Post a Comment