:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2817106/original/033308100_1558987296-ROMO_BONI_FAUSIUS_ABBAS-ridlo.jpg)
Dalam kesempatan yang sama, budayawan Banyumas, Ahmad Tohari, menilai toleransi dan kerukunan antar umat beragama di Indonesia mesti dibangun dari berbagai sektor. Salah satu yang menurut dia krusial adalah kesejahteraan masyarakat.
“Sudah sering diucapkan. Kebersamaan orang gereja, orang masjid, orang pure itu sudah biasa. Akan tetapi, kebersamaan antara orang kenyang dan orang lapar itu yang tidak digarap sama sekali,” kata Ahmad Tohari.
Menurut Tohari, kesejahteraan ekonomi dan sosial masyarakat menjadi faktor yang kerap dilupakan ketika membangun kerukunan atau toleransi. Ia pun mengkritik model pembangunan toleransi dan kerukunan umat beragama yang hanya berupa simbol belaka.
Itu termasuk oleh pemerintah yang kerap melupakan isu ekonomi dan sosial saat membangun budaya kerukunan. Pemerintah lalai bahwa kesejahteraan yan rendah bisa pula menjadi pemicu gangguan sosial dalam masyarakat.
Sebab, sikap intoleran masyarakat bisa berawal dari kondisi susah. Akibatnya, mereka mudah terprovokasi untuk melakukan beragam tindakan, ucapan yang membenarkan diri atau kelompok sendiri.
Tohari yakin, sebagian masyarakat yang mudah terprovokasi adalah masyarakat yang lapar. Lapar itu diartikan Tohari sebagai hasrat atau keinginan-keinginan ekonomi dan sosial yang belum terpenuhi.
Menurut dia, masyarakat yang kurang sejahtera lebih mudah terprovokasi. Ujungnya, orang tersebut bisa saja larut dalam isu sektarian.
Dia meminta agar tiap umat beragama belajar toleransi dalam agamanya masing-masing. Sebab, semua agama telah mengajarkan toleransi. Salah satunya adalah perintah untuk saling berbagi dan melindungi.
“Wareg bareng, kencot bareng’. Kelihatannya kasar, tetapi artinya menarik. Nah, artinya saya kira, penting sekali, kebersamaan, antara Jawa dengan Sunda, Tionghoa, itu sudah umum. Yang lebih penting adalah kebersamaan saat susah,” Tohari menjelaskan.
Saksikan video pilihan berikut ini:
Belajar Toleransi Beragama di Desa Kalikudi Cilacap
No comments:
Post a Comment